Tahta, harta dan wanita. Tiga ta ini bisa jadi berkah sekaligus bencana. Bisa jadi kunci menuju pintu surga, pun bisa jadi gerbang neraka. Bisa jadi nikmat, juga berpotensi kuat jadi niqmah alias bencana.
Korupsi adalah bagian hitam dari perjalanan peradaban manusia secara universal.Hampir semua bangsa berhadapan dengan masalah ini sesuai dengan ukurannya. Korupsi sudah ada ketika zaman kuno yaitu pada peradaban Mesir, Ibrani, Babilonia, Yunani kuno, Cina, Romawi kuno dan juga di negara-begara Barat (Eropa dan Amerika).
Panitia Pirngadi, setelah hampir satu tahun lebih, dapat menyelesaikan rencana RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim. Sebagian besar isi dari RUU itu hampir sama dengan Ordonantie 1939, namun memiliki perbedaan pada penentuan garis teritorial yang sebelumnya 3 mil, menjadi 12 mil laut.
Sejak gelombang reformasi, euforia demokrasi dan kebebasan meninabobokkan seluruh elemen bangsa. Anak bangsa berlomba-lomba mengejar tahta, harta dan wanita. Berbarengan dengan biaya demokrasi yang mahal, seluruh energi politisi, aparat negara, penegak hukum tercurah energi aji mumpung. Mumpung berkuasa kesempatan menumpuk harta. Tak heran bila kasus-kasus korupsi, penggarongan uang negara, hak rakyat dikuras.
Bela negara memang kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Memiliterkan sipil, saya tidak setuju. Akademisi yang setuju berarti pelacur akademik. Bela negara tidak bisa dipahami dalam perspekif wamil. Kita telah dikacaukan antara bela negara dan bela pejabat, begitu juga kita dikacaukan antara negara yang kacau dengan kekacauan negara.
Awalnya, sebuah posting sahabat di Facebook (FB). Judulnya,”Mengapa Yahudi Menguasai Dunia?”. Sebetulnya topik-topik senada sudah biasa kita baca dan dengar. Saya tak minat mengolahnya menjadi berita penting untuk keislaman kita. Tapi, belakangan ini, obsesi kembali ke asal, maksud saya ke dunia pendidikan, memberontak kuat dalam diriku.
Ia membakar batang hio dengan menggenggam kepalan tangannya dan mulutnya komat-kamit membaca doa atau mantra. Mungkin karena saya seorang muslim, maka saya tidak mempertanyakan mantra atau doa apa yang dibacanya sesaat setelah hio berwarna merah itu terbakar. Saya cukup melihatnya sebagai suatu ibadah yang diyakini encim itu, dan sesekali melirik ke meja persembahan.
Presiden SBY akan menerima penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation, sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan. Gelar ini akan diberikan 30 Mei mendatang di New York, Amerika Serikat. SBY dinilai sukses membangun perdamaian, demokrasi dan toleransi.Lha, benarkah realita damai dan toleran terjadi di Indonesia? Jauh api dari panggang.
Bagi Kartani, Tayub merupakan tari pergaulan yang tidak semata tari; melainkan kepada perlunya menyeleraskan gerak tangan kaki penari mengikuti suara gamelan. Makin selaras makin asik ditonton dan tak urung mengundang tawa. Meski bisa saja, penonton tertawa karena penari salah melakukan gerak ibing dan tak sesuai bunyi gamelan. Tari pergaulan ini mestinya jangan dicemari oleh hal-hal negatif.
Apakah religiusitas itu dicirikan oleh maraknya kegiatan keagamaan sehingga nama Tuhan kerap disebut tiap saat, ataukah ditandai dengan pengenaan simbol keagamaan sehingga tampak bergandengan dengan suasana religius?