Kalau dalam kajian sosio-ekonomi-politik dikenal istilah negara gagal atau failed state, saya mau mengenalkan istilah iman yang gagal (failed faith) dalam kajian agama. Istilah ini belum muncul dalam kajian akademis. Bila negara gagal menggunakan 3 kriteria: tidak terjamin kepuasan dan keamanan rakyat, tidak terdistribusinya kue ekonomi yang adil, dan pengabaian hak-hak rakyat yang tinggi, tentu iman yang gagal lebih banyak lagi parameternya. Saya tidak akan bahas rinci kali ini. Tapi, adakah signifikansi iman yang gagal dengan negara gagal? Itulah yang sangat penting kita diskusikan. Saya melihat, kegagalan negara itu sesungguhnya produk kegagalan iman. Itu terkait karena iman fundamen agama, sementara agama merupakan ruh kehidupan.
Saat Rasul Muhammad mengenalkan Islam, iman yang dikenalkannya menggelorakan semangat pembebasan. Quraish Makkah goncang. Iman baru itu menolak penyembahan tuhan-tuhan ciptaan tangan mereka. Bagaimana logis bila batu cadas yang mereka pahat dijadikan sesembahan? Wanita diangkat martabatnya. Perbudakan manusia dikecam dan dinistakan. Riba dan bisnis yang tidak bermoral diharamkan. Akhlak luhur dijadikan esensi keislaman. Perhatian (care) kepada yang tertindas, dhuafa , dan tidak beruntung. Sengaja mengabaikan esensi-esensi ini, oleh Al-Qur’an dinilai pembohong agama. Saya yakin, kita memang baru pada level punya agama (have religion). Predikat kita baru menuju Islam. Belum benar-benar pasrah dan taat. Belum muslim kafaah.
Sekarang kita lihat betapa semaraknya kejahatan, saling menindas, korupsi merajalela, nasib kaum miskin diabaikan, hukum diperjualbelikan, tumpul bila pelakunya berduit dan berkuasa, sangat tajam bila pelaku miskin dan tidak punya akses kuasa, alam dieksploitasi tanpa konservasi, bisnis amoral merajalela, sistem ekonomi menindas, kejahatan kemanusiaan tinggi, ajaran moral benar-benar tidak lagi penting. Itulah Iman yang gagal dan kaum beriman (failed beliver) yang abai. Agama dilumpuhkan sendiri oleh pengimannya.
Bila iman ini tidak sehat, akan lebih gagal lagi saat peradaban masuk era globalisasi. Terhadap globalisasi ini, ada 2 bentuk respon kaum beriman. Respon yang akomodatif dan akseleratif. Golongan ini melahirkan gerakan reformasi pemahaman keagaman. Abduh di Mesir, Fazlurrahman di Pakistan, yang mengalir kepada Cak Nur, Syafii Maarif dan Gus Dur di Indonesia. Gagasan Islam damai, sejuk, inklusif, pluralis, liberalis lahir dari persepsi yang sehat dan produktif mengelola potensi intelektual. Respon yang negatif ditiupkan oleh mereka yang menyempitkan dada intelektualnya saat berhadapan dengan globalisasi. Aksi kaum jihadis, ortodoksi, fundamentalis dan kaum radikal berada pada kegagalan menyehatkan dan membuat imannya produktif. Bagaimana agar kita terhindar dari kegagalan iman itu (failed believer)?
Saya akan milih salah satu persepsi dan paradigma beriman dari sekian jalan keluar yang bisa kita diskusikan. Yang paling simple kembali ke esensi dan makna dihadirkan agama bagi manusia. Dalam bahasa Cak Nur, kembali keharibaan jati diri manusia. Tepatnya dahulukan akhlak dalam beragama daripada sekedar ritual dan seremonial agama. Karena fenomena kegagalan beriman itu tidak hanya khas Islam, saya akan sodorkan esensi yang termuat dalam agama-agama. Maafkan, saya memang menikmati kajian “kalimatun sawa”vis-visi universal yang merupakn esensi dan substansi agama. Inilah yang paling berharga dari Cak Nur. Mahaguru keislaman saya.
Bila anda seorang pengiman Hindu resapi ajaran Sri Krishna dan nyanyian indah Bhagawad Gita. Pasrahkan segala hasrat dan ego kita kepada rahmat Tuhan. Gembira itu bisa dirasakan bila kita selalu menyertakan-Nya dalam perilaku. Itulah jalan mulia dalam Hindu. “adalah kewajiban bagi setiap orang untuk mededikasikan hidupnya, kepandaiannya, kekayaanya, kata-katanya, dan pekerjaanya bagi kesejahteraan makhluk lain”. (Bhagawad Gita 3:9).
Bila anda seorang Buddhis, nikmati kesejukan, kedamaian dan keindahan ajaran Sidharta Gautama. Amalkan empat (4) kebenaran Mulia: pertama, penderitaan dan kesusahan takdir bagi hidup dan kehidupan manusia. Kedua, akar derita dan nestapa itu adalah nafsu diri. Ketiga, hawa nafsu dapat dikendalikan. Keempat, ada jalan melepaskan diri dari penderitaan dan kesusahan. Konsisten dengan jalan bersegi delapan atau Delapan Jalan Mulia: pengertian benar (Samma-Diithi), pikiran benar (Samma-Sankappa), ucapan benar (Samma-Vaca), perbuatan benar (Samma-Kammanta), pencarian benar (Samma-Ajiv) , daya-upaya benar (Samma-Vayama), perhatian benar (Samma-Sati), konsentrasi benar (Samma-Samadhi). Buddhisme diminta untuk membuang jauh kebencian dan menggantinya dengan kasih sayang. Sang Mahaguru ini berkata, “ Tidak pernah di dunia ini kebencian dapat diluluhkan dengan kebencian. Hal itu hanya dapat diluluhkan dengan kasih sayang. Inilah hukum yang adil”. (Dharmapala 1:5).
Kita setuju bahwa agama, pada esensinya adalah sama. Substansi agama adalah kebaikan, keadilan, keindahan dan kebenaran. Itulah mengapa kita mesti tenang, jernih dan sejuk saat mendengar wacana kesamaan agama-agama. Semua agama sama. Sama-sama mengajarkan kebaikan, kebenaran dan keindahan. Itulah ruang temu agama-agama. Otentik dan tidak otentik bisa diperbincangkan dengan ragam pendekatan atau metode. Kita tidak akan bicara dalam buku ini tentang monoteisme atau politeisme. Apa parameter otentisitas agama? Otensitas agama diukur dari kebaikan, kebenaran, kemaslahatan dan kemanfaatan yang diberikannya kepada manusia dan kehidupan.
Nabi Zarathusthra atau Zoroaster, mengajarkan 3 esensi ajaran: Hommta (fikiran yang suci), hookhia (kata-kata yang suci) dan huveresta (tingkah laku yang suci). Simak anjurannya tentang jahatnya kebencian: “Singkirkan jauh-jauh kebencian darimu.Jangan memberi tempat sedikitpun dalam fikiranmu untuk berbuat kekacauan:berpeganglah pada cinta:guru-guru suci yang membangun jembatan ke Kebenaran: dan akan membimbingmu ke kediaman Tuhan, dimana ketulusan selalu menetap”(Gathas, Yasna:48:7).
Sementara, Nabi Kongzi mengajarkan dialektika empati, yaitu keinsyafan untuk merasakan hukum Timbal-Balik. Timbal-balik kelembutan hati manusia kepada sesama manusia. Suatu kali, Khonghucu ditanya, “Adalah satu kata yang dapat nerlakui sebagai prinsip dalam hubungan hidup?”.Dia menjawab: “Barangkali kata “timbale-balik” adalah yang tepat. Janganlah berbuat sesuatu kepada orang lain yang kalian sendiri tidak ingin orang lain berbuat demikian kepadamu”. (Analect, 15:24). Nabi Kongzi berujar“Kemampuan untuk melaksanakan lima sifat mulia di dunia membentuk jen”. Apa itu?: kehormatan, kedermawanan, ketulusan, ketekunan, dan kasih sayang”. (Analects, 17:6).
Bagaimana dengan Taoisme? Nabi Lao berujar“Adalah yang Esa yang membuat segala-galanya menjadi apa adanya”. Tao mengajarkan: rendah hati, ketenangan, mengutuk kekerasan, kesombongan, dan nafsu pribadi (syahwat). Yang menarik Lao juga bicara semakna dengan Nabi Muhammad tentang fitrah suci manusia.“Kemukakan pribadimu yang rendah hati.Peluklah erat-erat fitrah azali.Periksalah selalu nafsu pribadimu. Padamkanlah hawa nafsumu” (Tao Te Ching XIX).
Boleh saja kita marah dengan Zionisme. Boleh saja kita mengutuk aksi kriminal, aksi kejahatan kemanusiaan tentara Israel terhadap bangsa Palestina. Namun demikian, Taurat tetap suci. Kitab Ulangan 16:19-20: “Janganlah memutarbalikkan keadilan, jangan pandang bulu, dan jangan menerima suap, sebab suap membuat mata buta orang bijak, dan memutarbalikkan perkataan orang akan menjauhkan ketulusan. Semata-mata keadilan itulah yang harus kau kejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh Elohim. Seorang Rabbi Yahudi Hilles berkata, “Jangan melakukan sesuatu kepada orang lain hal-hal yang kau benci kalau orang lain berbuat demikian kepadamu”.
Dalam bagian lain, kita bisa membaca jelas pentingnya kepedulian sosial kepada manusia yang menderita dan dalam nestapa. “Pemberian zakat dan perbuatann mencintai sesamanya adalah sama dengan seluruh perintah Torat, tetapi mencintai sesamanya adalah lebih besar (Sukkah:49). Bacalah hal penting berikut tentang berderma kepada orang miskin. “Barangsiapa yang mendermakan sekeping uang kepada seorang yang miskin mendapatkan enam rahmat yang diberikan kepadanya, tetapi dia yang mengucapkan suatu perkataan yang lemah lembut kepadanya mendapat sebelas rahmat” (Baba Batra, 9b).
Inti ajaran Isa al-Masih adalah cinta kepada Tuhan dan berbuat baik kepada manusia. Nabi Isa berkata: “Yang utama dari segala printah adalah dengarkanlah wahai Israil. Tuhan kami adalah Tuhan Yang Esa. Dan hendaklah engkaiu cintai Tuhanmu dengan segenap hatimu, dan dengan fikiranmu, dan segenap kekuatanmu. Ini adalah hukum utama. Dan yang kedua:adalah cintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari ini”.(Markus 12:29-31). Dalam Korintus ia berkata: “Camkanlah ini: orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Dan orang yang menabur banyak ,akan menuai banyak juga”. Inilah hukum Tabur-Tunai Kristiani.
Bila tidak ingin gagal, masuklah dalam beragama itu pada pesan-pesan moral dan esensi ajaran agama. Menyibukkan diri dengan esensi akan lebih bermakna bagi manusia dan jelas searah dengan sifat dan makna kekhalifahan manusia di bumi. Ayo segera kita lakukan biar morat-marit sosial-politik-ekonomi ini tidak tambah semarak dan kita memasuki fase baru dalam beriman dan bernegara.
(msm)





Posted: 04/03/2013 10:37:58 WIB