wwf

Minggu lalu, dalam kolom ini saya nulis tentang Rasul Muhammad sebagai pebisnis sukses. Tulisan itu  memuat kepribadian, kiat etis dan spirit utama beliau: Jujur, amanah, bertanggung jawab, manis wajah, dan ramah terhadap siapapun. Itulah tangga sukses bisnisnya. Tentu, hal itu pula kunci sukses dakwah dan tabligh Islam yang diembannya. Kali ini saya ingin melanjutkan bicara etos, nilai-nilai spiritual dan mentalitas yang dimiliki para pebisnis kontemporer. Baik kelas nasional dan dunia.


Bila anda datang ke kampus Prasetiya Mulya Business School di BSD, akan anda temui gedung-gedung megah bernama para pebisnis sukses kelas nasional. Ada William Soeryadjaja, pendiri PT Astra Internasional Tbk. Inilah gedung utama. Ada gedung Eka Cipta, Sofyan Wanandi dan beberapa pebisnis top Indonesia. Menurut Pak Eko, fakulty member (sebutan untuk dosen) senior, harga satu gedung itu miliaran. Gedung utama di atas bernilai 25 miliar. Itulah amal jariyah Om William, sebutan untuk pemegang hak distribusi dan perakitan otomotif bermerek Toyota itu. Ada banyak gedung senilai atau kurang dari harga di atas. Selain gedung, ada daun emas, tertulis nama pebisnis tertentu. Anda tahu harga per daunnya? Nilainya 25 juta. Bagaimana nama-nama hebat itu mencapai sukses? Nilai-nilai luhur dan spiritualisme apa yang diyakini dan dijalankan mereka dalam berbisnis hingga mereka sukses, berlaba miliaran, bermakna dan bisnis mereka berkelanjutan (sustainable)? Itulah yang akan saya tulis kali ini.  
 
Om Lim, begitu William Soeryadjaya ingin disapa oleh siapapun. Bukan hanya yang dekat, kolega dan keluarganya. Karyawan dan staf rendahan pun diberi kesempatan dengan panggilan itu. Om Lim merintis dari nol. Obsesi luhurnya adalah menjadi sebaik-baiknya manusia. Apa kriterianya? Bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Dia memimpikan Astra sebagai pohon yang rindang dengan buah yang lezat, tempat banyak orang bernaung di bawahnya dan menikmati buahnya. Selain rindang dan kokoh, pohon Astra juga tetap lestari sehingga mampu memberikan maslahat bagi banyak pihak: para karyawan, masyarakat  sekitar yang terlibat dalam bisnis Astra, serta bagi negara melalui pajak yang dibayarkan. Itulah mimpi agung dan ingin dinikmati Om Lim. Ia sudah menikmati amal dan bahagia itu.  
 
Om Lim sukses membangun kerajaan bisnisnya. Sekalipun demikian, beliau bukan pribadi yang pelit, medit dan rakus (greedy). Tidak sama sekali. Malah sebaliknya. Sebagaimana dikisahkan kolega dekatnya, sehari-hari Om Lim sangat dermawan dan welas asih kepada siapapun. Testimoni itu diucapkan Jusuf Kalla, Sudhamek AWS, dan Aburizal Bakrie. Ke manapun dia pergi, di saku kanan-kirinya selalu dipenuhi uang pecahan rupiah. Bayangan saya, kaum dhuafa, fakir, miskin dan anak-anak yatim akan didekatinya. Disodorkan ke tangan atau diselipkan lembaran-lembaran itu  ke saku mereka. Konon, bahkan bila jalan-jalan ke luar negeri pun, kebiasaan itu tetap lekat padanya. Kedua saku celananya dipenuhi pecahan mata uang asing. Biasanya dolar Amerika. Keluruhan lainnya, Om Lim pribadi bersahaja dan rendah hati. William dikenal sebagai sosok pecinta ajaran luhur agama: jujur, kerja keras, saling bantu dan ramah. 
 
“Dia itu pengusaha yang selalu menekankan persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan, dan paling penting harus sama-sama untung. Dia sangat terbuka, jujur, dan benar-benar memegang prinsip dan etika bisnis. Dia pandai menjaga jarak dengan pemerintah, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Pengusaha seharusnya begitu,” kesan Jusuf Kalla dalam testimoni wafatnya William Soeryadjaja.

Pebisnis sukses lain, patut diteladani etos, spirit bisnis dan konsistensinya terhadap nilai-nilai etika, dan  spiritualisme adalah Sudhamek AWS, Chief Executive Officer Garuda Food. Baginya, bila ingin sukses, perusahaan berkembang maju, pebisnis mesti membangun budaya perusahaan (corporate culture) atau kultur bisnis. Beliau tidak mengukur kesuksesan bisnis berdasar besarnya produksi, luasnya komplek industri, dan ekspansi bisnis yang dilakukan. Juga tidak semata-mata dari profit yang dibukukan pada akhir tahun buku. Lantas apa ukurannya? Penganut Buddhis taat ini menggunakan parameter manfaat, dampak sejahtera bagi stakeholder dan masyarakat secara luas. Di Garuda Food, Sudhamek membiasakan rapat-rapat perusahaan dimulai dengan doa. Tentu sesuai iman dan kepercayaan masing-masing. Beliau menginginkan terbangunnya karyawan yang saleh, taat sekaligus kompeten pada pekerjaannya. Ia menyebutnya “pious yet competent”. Agar produktif dan nikmat dalam bekerja, Sudhamek menekankan pentingnya kualitas kehidupan keluarga karyawan. Harmonis, bahagia, tentram dan damai. Aura dan spirit rumah tangga ini akan terbawa dalam kinerja dan produktifitas dalam budaya perusahaan. Gathering, training dan pengarahan Sudhamek terhadap manajemen dan karyawan memuat nilai-nilai spiritualisme di atas. 
 
Benarkah ajaran moral,  agama dan  spiritualisme penting bagi sukses dan bahagianya para pebisnis? Bagaimana bisa dibuktikan bahwa pengabaian nilai-nilai luhur tersebut justru akan menghancurkan hidup sang pebisnis? James T Riady dari Lippo Group punya jawaban berdasarkan pengalaman personalnya. Dia mengakui pernah dalam kondisi hancur dan  “bangkrut” hidupnya. Secara materi dia melimpah dan mampu membeli “bintang dan bulan” pun. Tapi, semuanya tidak bermakna. Hidupnya kosong dan sepi. Ia menderita nestapa jiwa akut. Apa pasalnya? Ia mengabaikan nilai-nilai luhur agama dan spiritualisme. Sekalipun secara materi melimpah, ia merasa miskin dalam tumpukan harta, merasa kosong jiwa dalam keramaian hedonisme. Istri minta cerai, anak-anaknya terlantar jiwanya, saudara dan teman-temannya muak melihatnya. Bagaimana ia  kembali ke jalan lurus, memperoleh pertobatan, kembali ke pangkuan Tuhan?
 
Kisahnya, tahun 1990 ania tobat. James mereformasi paradigma dan memaksa reborn dengan jiwa baru. Ia merenungi makna hidup dan hidup bermakna. Beliau insyaf bahwa semua yang dia miliki baik talenta, kemampuan, aset, kekayaan, uang, termasuk hidupnya milik mutlak Tuhan. Semuanya harus dipertanggungjawabkan. Ujungnya, ia datang ke istrinya, minta maaf dan sadar betapa keluarga itu bermakna, relasi dan ajaran luhur kepada sesama dan orang tua itu penting. Ia sadar akan makna kerja keras, menggunakan harta sebaik mungkin. James kembali ke asal. Back to the God. Ajaran luhur, nilai-nilai abadi, yang tidak lekang oleh waktu yang pernah diajarkan papanya dibangkitkan dalam hidupnya. Kini ia memahami dan menjalankan bahwa kesuksesan, khususnya dalam bisnis itu bila seseorang  sebaik mungkin memberi berkat kepada masyarakat dan bangsa.
 
Bagaimana posisi Tuhan dalam bisnis? Apa karena mengejar profit dan laba, Tuhan mesti ditinggalkan? Apakah Tuhan penting dan berpengaruh dalam perjalanan sukses para pebisnis?
 
Untuk pertanyaan ini kita ajukan kepada Ciputra. Pengusaha sukses yang belakangan ini berupaya menularkan “virus entrepreneurship” alias kewirausahaan kepada calon-calon pebisnis. Pemilik dan pendiri Grup Ciputra ini menandaskan pentingnya integritas atau kepribadian yang luhur dari para pebisnis. “Sekali Anda melakukan penipuan akan tersebar ke mana-mana, berita yang jelek disebarkan 10 kali, berita yang baik hanya lima kali. Itu menyia-nyiakan berkat Tuhan dan kejelekan itu akan tersebar ke mana-mana. Anda tahu ucapan maupun lisan itu janji dan janji harus dipenuhi. Proyek kami misalnya, ada yang 10 tahun wajib kami selesaikan. Janji itu harus dipenuhi karena janji adalah utang”, itulah kunci sukses bisnis Ciputra. Yang paling mengharukan saat ditanyakan siapa pribadi yang paling mendukung sukses bisnis dirinya? “Tuhan,” katanya mantap. Setelah itu baru istri, relasi dan koleganya. 
 
Pebisnis lain yang patut diteladani dalam urusan penegakan nilai-nilai luhur adalah Arifin Panigoro. Pemegang bendera Medco ini fokus dalam bisnis minyak dan gas alam. Dalam banyak kesempatan, ia menyampaikan budaya dan nilai-nilai etik perusahaan yang dijunjungnya. Salah satunya Arifin mengungkapkan kekuatan intuisi. Seorang pebisnis mesti memiliki intuisi bisnis yang tajam. Dalam relasi sosial ia menjunjung kesetaraan kemanusiaan. Sekalipun seseorang duduk pada level CEO, direktur, manajer, relasi dan respek pada nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan. Spiritualisme utama yang Arifin tekankan adalah kejujuran, percaya diri, relasi dan jejaring bisnis yang luas, dan tanggung jawab pada semua level. 
 
Saya ingin tutup kolom ini dengan dua pebisnis dunia. Warren Buffet dan Bill Gates. Saya utamakan Warren Buffet dulu dari Bill Gates. Mengapa? Selama 13 tahun, majalah Forbes selalu menempatkan Bill Gates sebagai rangking utama manusia terkaya di dunia. Dominasi itu kini bergeser kepada Warren Buffet. Bila Bill Gates menumpuk pundi-pundi dollar dari peranti lunak Microsoft, Warren Buffet bermain pada investasi saham. Warren Buffet, diakui sebagai pebisnis dan investor yang intuisi bisnisnya tajam luar biasa. Kecerdasan intelektual, kecerdasan seninya, dan intuisi bisnisnya diibaratkan perpaduan antara fisikawan Einstein, seniman Picasso dan raja kaya raya pencipta koin emas Croesus dalam satu tubuh. Apa nilai luhur dan spiritualisme terpenting bagi Warren? Kepercayaan (amanah) seseorang atau publik. Itu ungkapnya. “Kepercayaan adalah seperti udara yang kita hirup. Menentukan hidup-mati kita”. Jawaban itu diungkapan Warren Buffet saat menjawab pertanyaan seorang mahasiswi MBA Harvard Business School. Saat ditanya tentang bagaimana ia memutuskan untuk mempekerjakan orang, Warren menjawab, "Saya melihat tiga hal: Pertama, adalah integritas personal. Kedua, adalah kecerdasan, dan ketiga adalah tingkat energi kerja (etos kerja) yang tinggi." Bagaimana bila tidak ada yang pertama? “Apabila anda tidak memiliki yang pertama, maka yang kedua menjadi tidak berarti." Itu artinya integritas itu penting. 
 
Bill Gates dan Warren Buffet bersatu dalam kerja-kerja kemanusiaan. Ia tumpahkan waktu dan sisa usianya untuk melayani manusia dan amal-amal jariyah lewat Yayasan Bill & Melinda Gates Foundation. Juni 2006 lalu, Warren mendermakan sebagian besar sahamnya di Berkshire. Total dermanya saat itu mencapai US$ 31 miliar alias sekitar 300 triliun rupiah. Itu hampir separuh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Tak mengherankan jika amal itu tercatat sebagai donasi terbesar dalam sejarah Amerika. Dana tersebut merupakan dua kali dana yang biasa dikumpulkan yayasan Bill and Melinda Gates selama ini. Yang paling menyentuh hati, dan bisa menumpahkan air mata, sekalipun hartanya begitu melimpah, Buffett memilih hidup sederhana di rumah yang dibelinya empat dekade lalu di Omaha. Kini, Bill Gates, Melinda dan Warren Buffet kini menikmati bahagia dan bermaknanya hidup lewat amal-amal reformasi bumi, pendidikan, ekonomi dan kemaslahatan kemanusian khususnya di Afrika dan negara-negara miskin lainnya. Ya, Allah betapa mulianya,  sayangi dan rahmati kedua hamba-Mu itu!
 
 
 
(msm)