Berikut ini adalah joke di sela pembahasan bertema “Menyongsong Presiden Pilihan Rakyat yang Berani Tegakkan Hukum dan Keadilan”. Seekor harimau suatu hari menanyakan bau tubuhnya yang bau kepada hewan lain yang dijumpai. Ia bertemu seekor ular kecil lalu bertanya, “Bagaimana bau tubuhku?” tanya harimau. “Tubuhmu sangat bau,” jawab ular itu apa adanya. Tak lama kemudian ular itu dibunuh sang harimau. Seekor anjing hutan memperhatikan dialog Si Raja Hutan dengan ular hingga proses terbunuhnya sang ular. Tak dinyana, anjing itu pun ditanya harimau, “Bagaimana bau tubuhku?” Melihat ular yang berkata jujur akhirnya dimangsa juga, maka anjing mengatakan, “Wow….tubuhmu harum dan wangi!” Harimau tidak puas atas jawaban itu lalu anjing hutan itu pun dimangsanya. “Kamu tidak jujur,” kata harimau. Sekonyong-konyong kancil mendekat dan memperhatikan dua peristiwa pemangsaan itu di hadapannya. “Hai kancil, bagaimana bau tubuhku?” Tanya harimau. Kancil mendekatkan hidungnya dan membaui tubuh harimau itu. “Cepat katakan!”. Dengan santai kancil menjawab, “Saya sedang pilek, jadi tidak tahu bagaimana sesungguhnya bau tubuhmu”.
Fabel atau kisah dengan pelaku hewan di atas disampaikan Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, di Cirebon (9/2/2013). Tentu saja mengundang tawa hadirin. Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah itu merambah ke masalah kepemimpinan. Betapa pun buruknya kepemimpinan, sedikitnya ada 3 (tiga) kategorisasi sikap orang-orang yang berkerumun di sekitarnya. Yakni, mereka yang jujur, kedua pembohong/penjilat, dan ketiga yang berakal. Ular, anjing hutan dan kancil pada fabel di atas memperlihatkan risiko yang bakal diterima atas sebuah peristiwa yang menimpa raja hutan (pemimpin).
Pemimpin partai politik ataupun eksekutif yang korup akan menindak langsung kepada kritikus atau kawan terdekat yang secara kritis memberi pandangan berbeda demi untuk perbaikan kepemimpinannya. Yusuf Soependi yang dipecat dari kedudukannya di Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agaknya dapat dinisbatkan sebagai contoh kisah di atas. Atau juga Agus Tjondro mantan Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengungkap kisah mantan Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom, melalui travel cek yang dibagikan berjamaah. Sebaliknya terhadap mereka yang biasa berbohong, berkata di luar fakta dan menjilat pemimpin pun tak pelak terusir pula dari ring kekuasaan. Ruhut Sitompul merupakan tipikal ini meski akhirnya terdepak pula dari Partai Demokrat (PD). Kategori ketiga yakni mereka yang berakal, yang terbiasa melakukan pekerjaan politik dan pemerintahan dengan kemampuan intelektualnya.
Pada deret kategori ketiga inilah berkumpul sejumlah pemikir dan konseptor yang lihai dan berpendidikan formal memadai ~hingga ke luar negeri~ namun tidak berani mengatakan yang sesungguhnya dan berdalih di balik kecerdasannya. Relatif mereka aman menduduki posisinya hingga sang pemimpin berganti, dan boleh jadi mereka akan terpilih lagi mendampingi pemimpin baru. Kecerdasan intelektual akhirnya menjadi semacam pembenaran atas tindakan kepura-puraan (hipokrit) dan berbekal dengannya ia menikmati fasilitas kekuasaan tanpa sekali pun mengalami prahara atas kedudukannya.
Pertanyaan yang muncul adalah, di manakah kategori kita saat ini? Tatkala korupsi telah menjadi bagian keseharian sistem politik dan pemerintahan, orang-orang di sekitar kekuasaan melakukan manuver politik sesuai dengan tabiatnya. Padahal kecerdasan intelektual meminjam Joseph LeDoux (1992) seorang ahli saraf di Center for Neural Science di New York University mengungkapkan bahwa dalam saat-saat yang kritis kecerdasan emosi akan lebih cepat menentukan keputusan dari pada kecerdasan intelektual. Hal itu sejalan dengan kajian Dr. Jalaluddin Rakhmat (1999) yang menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi sangat mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Bahkan tidak ada satu pun keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasional kerena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.
Kecerdasan intelektual sebagaimana dilakukan sang kancil pada cerita di atas agaknya merupakan pilihan atas pengamanan jabatan seseorang dalam hiruk pikuk kepemimpinan yang telah tercemar oleh perilaku Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Alhasil tidak ada keberanian untuk berkata tidak terhadap segala penyimpangan yang berlangsung di depan matanya, lantaran kecerdasan intelektual tidak/kurang diimbangi dengan kecerdasan emosi. Negeri kita atau rumah kita akhirnya menjadi kotor. Fakta bahwa 138 bupati/walikota dan 17 gubernur di Indonesia menjadi tersangka korupsi mengharuskan kita untuk tidak sekadar mengelus dada, atau menjadikan informasi ini hanya sebatas rasa kecewa. Boleh jadi kaum intelektual yang mengelilingi kekuasaan di daerah pun ikut andil dan menjadi salah satu penyebab berlangsungnya praktek korupsi tersebut.
Berpuluh ekor “kancil” yang asik mengelilingi kekuasaan seseorang sama sekali tidak pernah berani menggelorakan semangat perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemimpinnya maupun terhadap segala bentuk penyimpangan (bahkan yang sudah menjadi rahasia umum). Lihat saja kisruh seputar Surat Perintah Penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum. Petinggi Partai Demokrat pun saling melemparkan opini dan keterangan pers yang saling berseberangan. Kepolisian dan KPK juga dibuat sibuk, malah Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pun angkat bicara selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
Dengan kata lain, kembali ke cerita joke di atas, sikap intelektual yang meniru kancil (yang licin dan “licik”) ternyata sudah begitu akut mengelilingi tembok kekuasaan. Memang sikap itu berhasil mempertahankan posisi di lingkar kekuasaan. Akan tetapi ia menjadi blunder manakala menutup mata hatinya atas sebuah fakta yang diyakini kebenarannya.
Jangankan untuk “Menyongsong Presiden Pilihan Rakyat yang Berani Tegakkan Hukum dan Keadilan”, jangankan untuk mendapatkan lagi pemimpin yang berjiwa merah putih, jikalau kecerdikan “kancil” lebih asik menjadi pilihan sejumlah orang pintar, akademisi, intelektual, dan sejawatnya. Ke depan sepertinya kita tergolong ke dalam situasi sekarat, bagaikan Partai Demokrat dan PKS yang tingkat kepercayaan publik terhadapnya terus merosot. Diam-diam di hutan sana, sang kancil menertawakan perilaku manusia yang senang menceritakan kecerdikannya.
(msm)





Posted: 13/02/2013 07:08:34 WIB