Ahmad Alwajih - BeningPost

Tidak banyak orang seperti Jim Hughes. Mau berjuang mati-matian demi mencerahkan ruang pendidikan.

Kisahnya, sudah lebih dari dua dekade silam, Jim ingin menjadi seorang guru di sebuah Sekolah Menengah Atas. Keinginan ini disampaikannya pada salah seorang rekannya.

Rekan Jim mengatakan, keinginan itu mustahil. Sebab, tak mungkin ada sekolah yang mau menerima guru tuna netra.

Jim yang mengalami kebutaan sejak usia 3 tahun itu tidak putus asa. Ia malah mengirim ratusan lamaran kerja ke berbagai sekolah.

Hanya satu sekolah yang mau menerimanya.

“Tentu saja mengejutkan setelah membaca lamaran kerjanya. Apa yang bisa dilakukan tuna netra di dalam kelas?” kata kepala sekolah SMA Farmingdale, Steve Kussin, seperti dikutip The Huffington Post (5/06/2012).

Mungkin sejak di hari ketika Kussin menerima Jim, terbit firasat suatu ketika akan terjadi perubahan dalam dunia pendidikan di sekolah itu.

Benar saja. Jim yang mengajar Ilmu Sejarah itu, kini menjadi guru paling dicintai sekaligus yang terbaik di Sekolah Menengah Atas Farmingdale.

Kemampuan Jim yang tidak dimiliki guru lainnya adalah mau bersentuhan secara langsung dengan para murid.

“Beberapa guru ‘dibutakan’ oleh power point, buku pegangan, dan sebagainya. Seharusnya mereka belajar bagaimana berinteraksi langsung dengan murid-muridnya,” demikian komentar salah seorang murid Jim.

Atas usaha Jim yang mampu menghidupkan ruang kelas, maka ia dianugerahi sebuah penghargaan Freida J. Riley Award, dari lembaga donasi Christopher Columbus.

Saat ditanya resep mengajar yang baik, Jim cuma berkata, “Saya hanya melakukan apa yang saya cintai. Di kelas, saya merasa bagaikan di rumah.”

“Keterbatasan penglihatan saya adalah anugerah tersendiri. Dengannya saya mampu terhubung dengan murid-murid sampai tingkat tertentu. Dalam pengajaran, ini merupakan aset tak ternilai,” kata Jim.